Laman

Sabtu, 18 Maret 2017

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN #3

PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

 Hasil gambar untuk perkembangan demokrasi di indonesia


-----------------------------------------------------000-------------------------------------------------------

Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan

Implementasi demokrasi pada masa pemerintahan revolusi kemerdekaan  baru terbatas pada interaksi  politik diparlemen dan berfungsinya pers yang mendukung revolusi kemerdekaan. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang menyangkut perkembangan demokrasi pada periode ini, akan tetapi pada periode tersebut telah diletakkan hal-hal mendasar. Pertama, pemberian hak-hak politik secara menyeluruh. Kedua, presiden yang secara konstitusional ada kemungkinan untuk menjadi dictator. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, maka dimungkinkan terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi system kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik kita.


-----------------------------------------------------000-------------------------------------------------------

Perkembangan Demokrasi Parlementer (1945-1959)

Periode kedua pemerintahan negara Indonesia adalah tahun 1950 sampai 1959, dengan menggunakan UUD Sementara (UUDS) sebagai landasan konstitusionalnya. Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik di Indonesia. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan peranan yang sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tidak percaya kepad pihak pemerintah  yang mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet dalam periode ini  merupakan contoh konkret  dari tingginya akuntabilitas pemegang jabatan dan politisi. Ada hampir 40 partai yang terbentuk dengan tingkat otonomi yang tinggi  dalam proses rekruitmen baik pengurus, atau pimpinan partainya maupun para pendukungnya.
Demokrasi parlementer gagal karena
1.      Dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan konflik
2.      Basis sosial ekonomi yang masih sangat lemah
3.      Persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik yang  berjalan.


-----------------------------------------------------000-------------------------------------------------------

Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan gejala ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai politik sangat orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang memperhatikan kepentingan politik nasional secara menyeluruh.disamping itu Soekarno melontarkan gagasan bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan gotong royong.

Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga kekuatan politik yang utama  pada waktu itu, yaitu: presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, dan Angkatan Darat. Karakteristik  yang utama dari demokrasi terpimpin adalah: menggabungkan sistem kepartaian, dengan  terbentuknya DPR-GR peranan lembaga legislatif dalam sistem politik  nasionall menjadi sedemikian lemah, Basic Human Right menjadi sangat lemah, masa demokrasi terpimpin adalah masa puncak dari semnagt anti kebebasan pers, sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Pandangan A. Syafi’i Ma’arif, demokrasi terpimpin sebenarnya ingin menempatkan Soekarno seagai “Ayah” dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan terpusat berada di tangannya. Dengan demikian, kekeliruan yang besar dalam Demokrasi Terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. Selain itu, tidak ada ruang kontrol sosial dan check and balance dari legislatif terhadap eksekutif. (Sunarso, dkk. 2008:132-136).


-----------------------------------------------------000-------------------------------------------------------

Perkembangan Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru

Wajah demokrasi mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangan tingkat ekonomi, poltik dan, ideologi sesaat atau temporer. Tahun-tahun awal pemerintahan Orde Baru  ditandai oleh adanya kebebasan politik yang besar. Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden ke-2 RI dan menerapkan model Demokrasi yang berbeda lagi, yaitu dinamakan Demokrasi Pancasila (Orba), untuk menegaskan klaim bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan ideologi negara Pancasila. Dalam masa yang tidak lebih dari tiga tahun ini, kekuasaan seolah-olah akan didistribusikan kepada kekuatan masyarakatan. Oleh karena itu pada kalangan elit perkotaan dan organisasi sosial politik yang siap menyambut pemilu 1971, tumbuh gairah besar untuk berpartisipasi mendukung program-program pembaruan pemerintahan baru.
Perkembangan yang terlihat adalah semakin lebarnya kesenjangan antara kekuasaan negara dengan masyarakat. Negara Orde Baru mewujudkan dirinya sebagai kekuatan yang kuat dan relatif otonom, dan sementara masyarakat semakin teralienasi dari lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan.
Kedaan ini adalah dampak dari
1.  Kemenangan mutlak dari kemenangan Golkar dalam pemilu yang memberi legitimasi politik yangkuat kepada negara
2.   Dijalankannya regulasi-regulasi politik semacam birokratisasai, depolitisasai, dan institusionalisasi
3.      Dipakai pendekatan keamanan
4.    Intervensi negara terhadap perekonomian dan pasar yang memberikan keleluasaan kepda negara untuk mengakumulasikan modal dan kekuatan ekonomi
5.   Tersedianya sumber biaya pembangunan, baik dari eksploitasi minyak bumi dan gas serta dari komoditas nonmigas dan pajak domestik, mauppun yang berasal dari bantuan luar negeri, dan akhirnya,
6.  Sukses negara orde baru dalam menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakya sehingga menyumbat gejolak masyarakat yang potensinya muncul karena sebab struktural.

Pemberontakan G-30-S/PKI merupaka titik kulminasi dari pertarungan atau tarik tambang politik antara Soekarno, Angkatan Darat, dan Partai Komunisme Indonesia. Ciri-ciri demokrasi pada periode Orde Lama antara lain presiden sangat mendominasi pemerintahan, terbatasnya peran partai politik, berkembangnya pengaruh komunis, dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Menurut M. Rusli Karim, rezim Orde Baru ditandai oleh; dominannya peranan ABRI, birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik, pembatasan peran dan fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam persoalan partai politik dan publik, masa mengambang, monolitisasi ideologi negara, dan inkorporasi lembaga nonpemerintah. Beberapa karakteristik pada masa orde baru antara lain: Pertama, rotasi kekuasaan eksekutifbolehhttps://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.png dikatakan hamper ridak pernah terjadi. Kedua, rekruitmen politik bersifat tertutup. Ketiga, PemilihanUmum. Keempat, pelaksanaan hak dasar waega Negara. (Rukiyati, dkk. 2008:114-117). .


-----------------------------------------------------000-------------------------------------------------------

Perkembangan Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998-Sekarang)

Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden Soeharto, maka NKRI memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru, sebagai hasil dari kebijakan reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan negara yang berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak dengan di amandemennya UUD 1945 (bagian Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai sumber utama kegagalan tataan kehidupan kenegaraan di era Orde Baru.
 Amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan kelembagaan negara, khususnya laginya perubahan terhadap aspek pembagian kekuasaan dan aspek sifat hubungan antar lembaga-lembaga negaranya, dengan sendirinya mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap model demokrasi yang dilaksana-kan dibandingkan dengan model Demokrasi Pancasila di era Orde Baru. Dalam masa pemerintahan Habibie inilah muncul beberapa indicator kedemokrasian di Indonesia. Pertama, diberikannya ruang kebebasan pers sebagai ruang publik untuk berpartisipasi dalam kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, diberlakunya system multi partai dalam pemilu tahun 1999.
 Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi Pancasila, tentu saja dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959. Pertama, Pemilu yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya. Kedua, ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa. Ketiga, pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka. Keempat, sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat






Jumat, 10 Maret 2017

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN #2

CerPan (Cerpen Pancasila)
Memaknai Nilai Nilai Pancasila Pada Diskusi Perayaan Hari Kartini”


    1.      Ketuhanan yang maha esa
       Makna : Menuntut umat beragama dan kepercayaan untuk hidup rukun walaupun berbeda keyakinan.

Tidak biasanya, beberapa bahkan semua murid di salah satu kelas di SMA 23 belum juga melangkahkan kakinya keluar kelas, mengingat jam pelajaran telah usai beberapa menit yang lalu. Nyatanya sang ketua kelas yang meminta mereka untuk tidak langsung pulang ketika jam pelajaran selesai, mereka diminta untuk memberikan pendapat pada diskusi untuk Perayaan Hari Kartini mendatang.

Suara riuh mereka perlahan surut ketika salah satu siswi yang dikenal sebagai ketua di kelas mereka melangkah kedepan kelas, tanda akan memulai diskusi siang itu. Semua mata tertuju padanya ketika ia berdeham seolah meminta perhatian dari semuanya.

Untuk diskusi kali ini saya sendiri yang akan memimpin. Sebelumnya perkenankan saya untuk memimpin doa menurut agama islam,”

Perlahan semua menundukan kepala, mempersilahkan ketua kelas memimpin doa mereka. Setelah selesai berdoa semua bibir bergerak menyebut kata ‘amin’. Sang ketua kelas kembali melanjutkan diskusi mereka.


    2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab
Makna : Tidak membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya.

Oke langsung saja kita mulai diskusi untuk Perayaan Kartini siang ini.”

Seperti yang kalian tahu, saya mengumpulkan kalian semua siang ini untuk membahas konsep Perayaan Kartini yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 April mendatang.”

Seperti konsep perayaan ditahun-tahun sebelumnya, tiap kelas wajib berpakaian adat daerah dan memilih pasangan untuk menjadi maskot kelas. Dan kelas kita kebetulan ditunjuk untuk memakai pakaian adat suku batak untuk pasangan maskot kelas.”

Tapi yang berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini guru meminta kita untuk tidak memakai pakaian adat dari daerah kita sendiri, melainkan penentuan pakaian adat dari hasil kocokan ini.” lanjutnya sambil mengangkat gelas berisi gulungan kertas yang mereka anggap akan menjadi penentu pakaian adat apa yang akan mereka kenakan di perayaan itu.

Kelas kembali riuh seperti sebelumnya. Mereka sedikit memperdebatkan tentang konsep baru itu pada siswa di dekatnya. Dari raut wajah mereka terlihat ada yang merasa setuju atau senang dengan konsep itu, ada pula yang sepertinya sedikit kurang setuju. Merasa suasana kembali ribut, ketua kelas kembali berdeham dan melanjutkan kembali ucapannya.

Saya harap kalian semua bisa menerima konsep baru ini. Karena saya rasa guru meminta cara ini agar kita lebih bisa adil dan mentolerir pakaian suku adat manapun yang akan kita gunakan di perayaan itu. Tidak melulu menggunakan pakaian adat kita sendiri. Bagaimana? Sampai di sini ada pertanyaan?”


    3.      Persatuan indonesia
Makna : Menumbuhkan sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara.

Salah satu murid yang duduk di paling belakang mengangkat tangannya, “Lalu bagaimana dengan maskot kelas? Kalau kita mendapat suku batak, siapa yang akan menjadi maskotnya? Martina?”

Semua melihat kearah Martina, siswi yang mereka kenal berasal dari Suku Batak. Merasa namanya terpanggil, siswi itu mengangkat alisnya bingung.

Aku? M.., aku tidak masalah kalau kalian semua mempercayai aku sebagai maskot kelas.”

Ketua kelas sedikit menyunggingkan  senyumnya. Ia pikir dengan Martina rela menjadi maskot kelas tanpa ada paksaan, ini berarti akan meringankan bebannya untuk tidak memaksa murid lain menjadi maskot. Karena tugas seorang maskot itu bukan hanya sekedar menjadi maskot untuk dipertontonkan kelas lain. Pasangan maskot dituntut harus bisa berjalan layaknya model, mengetahui seluk beluk daerah maskot masing-masing, serta pandai bernyanyi. Karena semua itu yang akan menjadi penilaian bagi maskot kelas mana yang terbaik. Bisa dikatakan perayaan ini seperti perayaan menentukan abang none SMA 23.

Oke bagaimana pendapat kalian? Bukankah martina sangat cocok menjadi maskot kelas kita tahun ini?”

Semua terlihat mengangguk setuju.

Iya menurutku Martina memang sangat cocok. Dia cantik, bisa bernyanyi. Selain itu Batak juga merupakan sukunya sendiri, kurasa ia sangat mengerti dengan budayanya.” sahut yang lain memberikan tanggapan. “Tapi yang jadi masalah, siapa yang akan menjadi pasangan Martina? Di sini hanya martina yang berasal dari suku batak.”


    4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Makna : Musyawarah untuk mufakat.

Semua nampak berpikir. Benar juga, di kelas hanya Martina yang berasal dari Suku Batak. Tidak ada siswa lain di kelas mereka yang berasal dari suku batak.

Tapi menurutku untuk menjadi maskot tidak perlu siswa yang berasal dari daerah suku yang diminta guru, asalkan memiliki wajah rupawan dan suara yang bagus, itu tidak akan menjadi masalah. Untuk masalah wawasannya tentang budaya daerah itu, ia bisa mempelajarinya sebelum hari perayaan.” Ujar seorang murid bernama Nisa

Kalau memiliki wajah rupawan dan pintar bernyanyi, sepertinya itu tertuju padamu!” sahut siswi berperawakan imut menimpali ucapan Nisa. Telunjuknya mengarah pada siswa yang duduk disebelahnya.

Apa? Aku?!”

Yang lain kembali melihat ke arah objek yang sama. Objek yang ditunjuk oleh siswi berperawakan imut tadi, Dandy. Dandy memang dikenal siswa yang mengikuti paduan suara untuk SMA mereka, selain itu wajah tampannya menjadi bagian plus untuk dirinya.

Kurasa dia benar. Kau lumayan cocok untuk menjadi maskot.” Ujar Nisa lagi

Tapi aku tidak punya pakaian Suku Batak.” timpal Dandy masih kurang setuju dengan pilihan teman-temannya padanya.

Untuk masalah itu tenang saja, saya sudah memikirkannya.” Semua kembali menaruh perhatian pada ketua kelas. “Saya berencana untuk menggunakan uang kas untuk membiayai pinjaman pakaian adat untuk maskot kelas. Bagaimana? Yang setuju Martina dan Dandy yang menjadi maskot kelas kita tahun ini tolong acungkan tangan!”

Tanpa ragu hampir semua murid mengangkat tangannya, terkecuali martina dan dandy yang ditunjuk menjadi maskot kelas mereka.

Nah, gimana, Dan? Semua sudah setuju untuk menjadikanmu sebagai maskot kami.” Tanya ketua kelas sekali lagi pada siswa bernama Dandy itu.

M.., yasudah kalau kalian memberikan kepercaayaan itu padaku. Tidak ada alasan lagi untukku menolak kepercayaan kalian.” Dandy menyunggingkan senyum disela ucapannya. Begitupun ketua kelas yang sangat puas dengan pilihan maskot kelas mereka.


    5.       Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Makna : Sikap adil terhadap sesame, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain.

Oke kalau begitu, setelah ini kalian bisa langsung maju satu persatu untuk penentuan pakaian adat mana yang akan kalian kenakan untuk Perayaan Kartini nanti.”

Satu persatu dari mereka mulai berdiri dan maju kedepan mengambil pilihan untuk pakaian adat mereka, kecuali Martina dan Dandy. Dirasa semua sudah mengambil giliran, ketua kelas menyuruh mereka membuka kertas pilihan masing-masing dan menyebutkan pakaian daerah yang dipilih untuk dicatat di papan tulis.

Ketua! Boleh saya bertanya?” sahut salah seorang siswa tiba-tiba.

Ketua kelas mengalihkan perhatian padanya. Raut muka nya seolah berkata “Ya boleh silahkan!”

Saya mendapat pakaian adat Suku Minang. Saya rasa biaya peminjaman pakaian Adat Minang cukup mahal. Kalau diperkenankan, bolehkah saya menukarnya dengan pakaian adat lain?”

Ketua kelas nampak berpikir. Sulit juga kalau ada hal semacam ini. Haruskah ia memberikan keringanan dengan membolehkannya menukar pilihan siswa tersebut, atau memberikan pinjaman uang untuknya? Sepertinya pilihan pertama akan lebih masuk akal. Tapi sebelum ia kembali bersuara, salah satu siswa bernama Fadhli lebih dulu bersuara dibanding dirinya.

Kurasa aku bisa meminjamkan baju adat ku padamu. Aku memilikinya satu dirumah.”

Fadhli, ia murid di kelas mereka yang berasal dari Padang selain Shafly dan Eno.

Oh benarkah? Boleh aku meminjamnya?”

Fadhli mengangguk, “Ya tentu saja.”


Oke! Saya rasa diskusi ini cukup sampai disini. Semua keputusan sudah jelas. Mungkin besok saya, bendahara, dan sekretaris mulai bisa mencari pakaian adat untuk mascot kelas.” Ketua kelas kembali berucap. Ia menyudahi diskusinya dengan menutup dengan doa dan mengucapkan terima kasih atas perhatian dan partisipasi mereka selama diskusi berlangsung, lalu mempersilahkan mereka kembali pulang ke rumah masing-masing.





Rabu, 01 Maret 2017

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN #1

POHON SUKUN MERUPAKAN BUAH LAHIRNYA ISTILAH PANCASILA





Seokarno atau yang akrab disapa Bung Karno merupakan bapak proklamator yang dikenal juga sering melakukan meditasi atau bersemedi. Ia melakukan meditasi karena desakan pengasingan dari negara yang menjajah Indonesia pada waktu itu atau sekedar rutinitas Bung Karno kala ia mengunjungi sanak saudara di kampung halaman, Blitar, Jawa Timur.

Sudah banyak pula artikel-artikel yang membicarakan tempat-tempat di Indonesia yang menjadi tempat meditasinya. Tempat-tempat itu juga banyak disebut angker karena dibicarakan sebagai tempat pertemuan Bung Karno dengan makhluk goib seperti Nyi Roro Kidul. Tapi entahlah, itu merupakan cuap cuap dari masyarakat setempat yang pernah menjadi saksi kegiatan meditasi Bung Karno pada waktu itu.

Seperti halnya sekitar tahun 1930-an, Ir. Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Ende, Flores, NTT. Saat di pengasingan tersebut, ia sering bermain bersama masyarakat setempat, sekedar melepas  jenuh. Saat lelah ia duduk di bawah pohon sukun berbatang lima. 
Saat itulah Soekarno merenung dan masih dapat memikirkan bagaimana menyatukan Nusantara dalam satu dasar negara. Mengingat Indonesia memiliki banyak perbedaan suku, agama, ditambah dengan jarak antar pulau yang cukup jauh, membuat Soekarno berpikir matang untuk menyatukan Indonesia. Saat duduk dibawahnya, ia mengamati batang pohon sukun, tiba-tiba ia mendapat inspirasi dari batang tersebut dan lahirlah Pancasila.

Hasil gambar untuk DANAU KELIMUTU
Danau Kelimutu, Ende, Flores, NTT

Banyak yang mengatakan, saat di Pulau Flores, ia tidak banyak memiliki teman, ia lebih sering menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dengan bersemedi di pinggir danau Kelimutu, di bawah pohon sukun. Ia tidak pernah lepas dari rasa dan kata syukur kepada Tuhan walau keadaannya yang notabane sedang diasingkan. Kemudian secara alami munculah kelima sila sila Pancasila di tanah Flores itu.

Bung Karno mengatakan, apa yang dia kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi dan tradisi-tradisi nusantara sendiri. Dan ia menemukan lima butir mutiara yang indah.

Lima mutiara berharga itu adalah: Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan inilah yang kemudian menjadi Pancasila sekarang.

Guna mengenang keberadaan Soekarno di Ende dan pengingat lahirnya Pancasila, saat ini patung Bung Karno berdiri tegak untuk memberikan semangat nasionalisme kepada bangsa Indonesia.

Dan kata “Esa” sendiri yang artinya Satu merupakan bahasa masyarakat Ende yang kini melekat dalam sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa“.




Source :