Laman

Rabu, 03 Juli 2019

PENULISAN 12 - KONSERVASI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG


Konservasi Kawasan Kota Lama Semarang



1.            Sejarah Kota Lama

Kota Lama Semarang terletak di Kelurahan Bandarharjo, kecamatan Semarang Utara. Batas Kota Lama Semarang adalah sebelah Utara Jalan Merak dengan stasiun Tawang-nya, sebelah Timur berupa Jalan Cendrawasih, sebelah Selatan adalah Jalan Sendowo dan sebelah Barat berupa Jalan Mpu Tantular dan sepanjang sungai Semarang. Luas Kota Lama Semarang sekitar 0,3125 km2.

Seperti kota-kota lainnya yang berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, dibangun pula benteng sebagai pusat militer. Benteng ini berbentuk segi lima dan pertama kali dibangun di sisi barat kota lama Semarang saat ini. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Kemudian permukiman Belanda mulai bertumbuh di sisi Timur benteng “Vijfhoek”. Banyak rumah, gereja dan bangunan perkantoran dibangun di pemukiman ini. Pemukiman ini adalah cikal bakal dari kota lama Semarang. Pemukiman ini terkenal dengan nama “de Europeeshe Buurt”. Bentuk tata kota dan arsitektur pemukiman ini dibentuk mirip dengan tata kota dan arsitektur di Belanda. Kali Semarang dibentuk menyerupai Kanal-kanal di Belanda. Pada masa itu benteng Viffjhoek belum menyatu dengan pemukiman Belanda.

Kota lama Semarang direncanakan sebagai pusat dari pemerintahan kolonial Belanda dengan banyak bangunan kolonialnya. Ini terjadi setelah penandatanganan perjanjian antara Mataram dan VOC pada tanggal 15 Januari 1678. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan, bahwa Semarang sebagai Pelabuhan utama kerajaan Mataram telah diserahkan kepada pihak VOC, karena VOC membantu Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Mulai tahun 1705, Semarang menjadi milik secara penuh VOC. Sejak saat itu mulai muncul banyak pemberontakan dan suasana menjadi tidak aman lagi. Belanda membangun benteng untuk melindungi pemukimannya. Benteng yang terletak di sisi barat kota lama ini di bongkar dan dibangun benteng baru yang melindungi seluruh kota lama Semarang.

Kehidupan di dalam Benteng berkembang dengan baik. Mulai banyak bermunculan bangunan-bangunan baru. Pemerintah Kolonial Belanda membangun gereja Kristen baru yang bernama gereja “Emmanuel” yang sekarang terkenal dengan nama “Gereja Blenduk”. Pada sebelah utara Benteng dibangun Pusat komando militer untuk menjamin pertahanan dan keamanan di dalam benteng.

Pada tahun 1824 gerbang dan menara pengawas benteng ini mulai dirobohkan. Orang Belanda dan orang Eropa lainnya mulai menempati pemukiman di sekitar Jalan Bojong (sekarang jalan Pemuda). Pada era ini kota lama Semarang telah tumbuh menjadi kota kecil yang lengkap. Pada saat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), dibangun jalan post (Postweg) antara Anyer dan Panarukan. Jalan “de Heerenstraat” (sekarang jalan Let. Jend.Suprapto) menjadi bagian dari jalan post tersebut (van Lier, H.P.J. 1928).
Seperempat abad setelah berakhirnya VOC, pemukiman Belanda mulai berkembang ke Jalan Bojong, ke arah Barat (jalan Daendels) dan di sepanjang jalan Mataram. Menjelang abad 20,  Kota Lama semakin berkembang pesat dan banyak dibangun kantor perdagangan, bank, kantor asuransi, notaris, hotel, dan pertokoan. Di sisi Timur gereja Belenduk, dibangun lapangan terbuka yang digunakan untuk parade militer atau pertunjukan musik di sore hari (van Velsen M.M.F. 1931).

Kawasan Kota Lama Semarang dibentuk sesuai dengan konsep perancangan kota-kota di Eropa, baik secara struktur kawasan maupun citra estetis arsitekturalnya. Kawasan ini memiliki pola yang memusat dengan bangunan pemerintahan dan Gereja Blenduk sebagai pusatnya. Pola perancangan kota tersebut sama seperti perancangan kota- kota di Eropa. Sementara pada karakter arsitektur bangunan, kekhasan arsitektur bangunan di kawasan ini ditunjukkan melalui penampilan detail bangunan, ornamen-ornamen, serta unsur-unsur dekoratif pada elemen-elemen arsitekturalnya. Dengan keberadaan Kota Lama Semarang, citra arsitektur Eropa telah hadir dan menambah nuansa keberagaman arsitektur di Jawa Tengah dan daerah-daerah sekitarnya, dan pada gilirannya memperkaya khazanah arsitektur di negeri ini.


2.            Kota Lama Sebagai Obyek Konservasi

Kota Lama menyimpan banyak sejarah Indonesia ketika dijajah oleh Belanda. Kawasan yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan kuno yang mempunyai nilai arsitektur tinggi ini sudah menjadi cagar budaya Indonesia yang patut di konservasi. Berdasarkan  Undang-Undang No 5 Tahun 1992 dikemukakan yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah : (dalam Bab 1 pasal 1) yaitu : (1)  Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; (2) Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Kawasan Kota Lama memiliki sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang yang patut dikonservasi. Beberapa di antaranya yaitu :

a.           MERCUSUAR

Bangunan ini dibangun pada tahun 1884. Pembangunan mercusuar ini berkaitan dengan pembangunan kota Semarang sebagai kota Pelabuhan oleh Pemerintah kolonial untuk pengangkutan ekspor gula ke dunia.

b.          STASIUN K.A. TAWANG

Stasiun Tambak Sari di Jalan Pengapon, dibangun oleh (NEDERLANDSCHE INDISCHE SPOORWEGMAATSCHARIJ), Diresmikan oleh Gubenur Jenderal MR. BARON SLOET VAN DE BEELE. Stasiun ini menggantikan stasiun sebelumnya yang dibangun pada 16 Juni 1864 – 10 Februari 1870 yang melayani jalur Semarang – Jogja – Solo. Karena stasiun itu tidak memenuhi syarat lagi, akibat bertambahnya volume pengangkutan maka dibangunlah Stasiun Tawang. Arsitek gedung ini adalah JP DE BORDES. Bangunan ini selesai dibangun pada bulan Mei 1914.
Bangunan ini mempunyai langgam arsitektur yang Indische yang sesuai dengan kondisi daerah tropis. bangunan ini mempunyai sumbu visual dengan Gereja Blenduk sehingga menambah nilai kawasan. Bangunan ini termasuk “tetenger” Kota Semarang.

c.           PT. MASSCOM GRAPHY

Bangunan ini terletak di Jl. Merak 11 – 15. Gedung ini semula dimiliki oleh HET NOORDEN yaitu surat kabar berbahasa Belanda. Gedung ini mempunyai nilai yang tinggi merupakan cikal bakal dunia pers di Semarang. Saat ini bangunan ini dialih gunakan untuk PT. MASSCOM GRAPHY yang merupakan perusahaan percetakan surat kabar di Suara Merdeka Group.

d.          GEREJA BLENDUK

Berusia lebih dari 200 tahun dan dijadikan “tetenger” (Landmark) kota Semarang. Terletak di Jalan Let Jend. Suprapto No.32. Bangunan ini mulai berdiri pada tahun 1753, digunakan untuk gerejaNEDERLANDSCHE INDISCHE KERK. Gedung ini diperbaiki lagi pada tahun 1756, 1787, dan 1794. Pada tahun 1894 bangunan ini dirombak seperti keadaan sekarang. Arsitek pembangunan ini adalah HPA DE WILDE dan WWESTMAS. Keberadaan gereja ini berperan besar terhadap perkembangan agama kristen di Semarang.

e.           SUSTERAN ORDO FRANSISKAN
Bangunan ini terletak di Jl. Ronggowarsito No. 8. Semula pada tahun 1808 Pastur LAMBERTS PRINSENmemprakarsai pendirian rumah yatim piatu Katholik untuk putra diberi nama WEESHUIS. Pada tahun 1870 datang sekelompok suster dari Ordo FRANSISKAN ke Semarang, kemudian seorang arsitek bangsa Belanda M. NIESTMAN merancang bangunan di lokasi tersebut untuk susteran. Pembangunan dimulai pada tanggal 16 Februari 1906.  Komplek ini memanjang dari Jl.R. Patah sampai Jl. Stasiun Tawang. Sebelum kemerdekaan bangunan ini pernah digunakan untuk markas tentara GURKHA.

f.           KANTOR TELEKOMUNIKASI
Bangunan ini terletak di Jl. Let Jend Suprpto No. 7. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1907 bersamaan dengan Kantor Pos Semarang. Bangunan ini sampai sekarang masih digunakan untuk kantor Telkom. Bangunan ini dirancang sesuai untuk daerah tropis, berada tepat di mulut jalan Branjangan, waktu itu dinamai jalan STADTHUIS STRAAT.

g.          GEDUNG JIWASRAYA


Bangunan yang terletak di Jl. Let. Jend. Suprapto 23 – 25 ini dibangun pada tahun 1920. Arsitek gedung ini adalah HERMAN THOMAS KARSTEN. Seperti pada bangunan-bangunan rancangannya, gedung ini dirancang sesuai dengan iklim tropis. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai, sampai saat ini digunakan untuk bangunan perkantoran.

h.          GEDUNG MARBA


Dibangun pada pertengahan abad XIX, terletak di Jl. Let.Jend. Suprapto No.33 yang waktu itu bernamaDEHEEREN STRAAT, merupakan bangunan 2 lantai dengan tebal dinding kurang lebih 20 cm. Pembangunan gedung ini diprakarsai oleh MARTA BADJUNET, seorang warga negara Yaman, merupakan seorang saudagar kaya pada jaman itu.
Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya MARBA. Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL).
Selain kantor tersebut digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu, DE ZEIKEL. Setelah pensium, perusahaan pelayarannya dipegang oleh anaknya MARZUKI BAWAZIR. Saat ini bangunan ini tidak ada aktivitasnya dan digunakan untuk gudang.

i.            GEDUNG PT. SUN ALLIANCE
Bangunan ini berdiri sekitar tahun 1866. Hal ini dibuktikan dibagian kerucut muka gedung bagian atas ada tertulis “SAMARANG 1866”. Gedung ini bagian dari bangunan Borumij Wehry. Gedung ini merupkan gedung tertua yang masih berfungsi dan terawat dengan baik, dan dipakai untuk perusahaan asuransi. Konstruksi bangunan ini sudah mengadaptasi bangun yang berciri untuk udara tropis.

j.            KANTOR PT. RAJAWALI NUSINDO


Bangunan ini terletak di kawasan Jl. Mpu Tantular 11-15 Semarang dibangun pada awal XIX. Semula bangunan ini digunakan untuk kolonial. Kemudian beralih, digunakan untuk kantor dagang OEI TIONG HAM CONCERN. Ia seorang keturunan cina, orang terkaya di Semarang pada waktu itu. Pada waktu kemerdekaan gedung ini diambil alih oleh pemerintah RI dan digunakan sebagai Kantor Panitia Utang Piutang Negara(PUPN). Setelah itu dialihkan fungsikan untuk PT. RAJAWALI NUSINDO.
Bangunan kuno diatas hanya sebagian kecil dari bangunan-bangunan kuno yang terdapat di kawasan Kota Lama yang patut dijaga, dipelihara, dan dilestarikan. Bangunan kuno tersebut merupakan aset budaya Indonesia yang tidak ternilai harganya, baik dari segi arsitekturnya maupun historisnya. Oleh karena itu Pemerintah Kota Semarang harus lebih aktif  menjadikan kawasan Kota Lama sebagai wilayah konservasi di Semarang.


3.          Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam Konservasi Kawasan Kota Lama

Pemerintah Kota Semarang tidak berdiam diri melihat keberadaan Kawasan Kota Lama yang semakin lama semakin memperihatinkan. Pemerintah Kota Semarang telah mengeluarkan Perda Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama. Namun, walaupun sudah terdapat Perda yang mengaturnya, kondisi kawasan Kota Lama lama masih memprihatinkan. Hal ini karena aplikasi dari Perda tersebut masih sangat minim.

Menurut Widya Wijayanti “ada 3 cacat lahir yang dibawa oleh Perda tersebut, yaitu :
1.     Perda disusun berdasarkan rencana-rencana yang berasal dari sewindu sebelumnya. Perda tersebut kurang menangkap dengan jeli perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dunia, terutama di tanah air, dan bagaimana perubahan tersebut berpengaruh pada kondisi regional dan Kota Semarang.
2.      Label Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan semestinya tidak perlu membelenggu dan menyebabkan isinya berputar-putar di sekitar penataan fisik bangunan semata, yang pada hal-hal kurang pokok terkadang terjerumus terlalu dalam.
3.     Hak-hak pemilik/penghuni yang harus mematuhi aturan yang disusun pemerintah tidak memperoleh ruang dalam perda tersebut.

Melihat kekurang itu seharusnya Pemerintah Kota Semarang harus segera merevisi ulang perda tersebut. Pemerintah Kota Semarang harus lebih aktif dan jelih melihat perkembangan Kota Lama Semarang. Pemerintah Kota Semarang harus melakukan konservasi yang terintegrasi pada Kota Lama, dan ada tujuh konsep dalam melakukan konservasi yang terintegrasi yaitu:
1.            merupakan sebuah proses bukan sebuah projek;
2.            konservasi membutuhkan keseimbangan dalam pengembangan dan kebutuhan penghuni;
3.        merupakan gabungan jangka-panjang yang berkelanjutan: sosial (penghuni); ekonomi (skala   kecil perusahaan setempat); budaya (konservasi); dan ekologi (sumber daya alam–kesadaran)
4.            lingkungan hidup harus ditingkatkan melalui pro-aktif dan program yang mendukung;
5.            perbaikan keadaan ekonomi penghuni merupakan bagian dari pendekatan;
6.            dibutuhkan partisipasi yang luas dari stakeholders termasuk komunitas setempat;
7.            pengembangan projek skala besar harus dihindari.

Pemerintah kota Semarang harus menerapkan konsep-konsep ini dalam upayanya melestarikan Kota Lama. Konsep ini harus dijalankan secara aktif, berkala, dan berkelanjutan dan juga dibutuhkan peran serta dari masyarakat Semarang jika masih ingin melihat keberadaan  Kota Lama.




Source :
·               http://abadisantosoganteng.blogspot.com/2011/04/kriteria-penilaian-bangunan-konservasi.html

PENULISAN 11 - KONSERVASI BANGUNAN SANTA CROCE DI FLORENCE


Santa Croce di Florence, Italia


 
·               Nama Bangunan                      Santa Croce di Florence
·               Arsitek                                       Filippo Brunelleschi, Arnolfo di Cambio, Niccolo Matas
·               Gaya Arsitektur                       : Arsitektur Gotik, Arsitektur Renaisans
·               Alamat                                       Piazza di Santa Croce, 16, 50122 Firenze FI, Italia

Gerakan revolusi menyebabkan reaksi yang kuat juga di Italia dalam bentuk Counter Reformasi, yang dimulai pada 1530-an dan secara bertahap datang untuk mempengaruhi perubahan gereja yang ada bangunan mengikuti ‘Pedoman’ dari Dewan Trent setelah tahun 1563.

Fasad lama Santa Croce :


Kebutuhan untuk mereformasi rencana gereja telah ada sebelumnya, tapi sekarang tindakan itu diambil lebih tegas, dan dampaknya dalam renovasi gereja abad pertengahan sebenarnya dapat dilihat sebanding dengan apa yang terjadi kemudian di negara-negara utara, terutama di Inggris selama abad kedelapan belas.
Interior yang membuka, rood screen (dinding pemisah antara tempat duduk jemaat dengan kapel) dan hambatan lainnya telah dihapus dan kapel diletakkan ulang menjadi salah satu perubahan terbesar dalam renovasi gereja di negara – negara Eropa, contohnya Gereja Santa Croce yang direnovasi oleh Giorgio Vasari pada saat itu.


(Denah gereja sebelum konservasi)

(Denah gereja setelah konservasi)

Perawatan dan pemulihan Santa Croce tetap berlangsung hingga abad ke – 20. Pada tahun 2005, perawatan pada fasad gereja tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian fasad pada bangunan.

Fasad bangunan sekarang :    

Kemudian pada tahun 2008, pembersihan dan perawatan jendela kaca patri di kapel utama yaitu dengan membersihkan dan menghilangkan semua noda yang ada pada jendela dan mengembalikan warna pada jendela kaca patri tersebut sehingga terlihat seperti baru.

(Jendela kaca patri yang berada di dalam gereja)

Pada 2011, peremajaan pada bagian kapel yaitu lukisan dinding / mural “Stories of The True Cross” karya Agnolo Gaddi.






Source :
·               urbanpages.wordpress.com/pelaksanaan-konservasi-dalam-arsitektur/
·               repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49557/4/Chapter%20II.pdf
·               santacroceopera.it/en/ArchitetturaEArte_Restauri.aspx


PENULISAN 10 - PERAN PARIWISATA DALAM KONSERVASI RUMAH TRADISIONAL


PERAN PARIWISATA DALAM KONSERVASI RUMAH TRADISIONAL

Sebagai bagian dari masyarakat global yang mengalami perubahan, tentunya terjadi pula perubahan-perubahan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat secara budaya. Demikian pula hal ini terjadi pada arsitektur rumah tradisional yang bermetamorfosis dari tradisional ke modern baik desain maupun teknologi serta bahan yang digunakan. Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa manusia cenderung berhasrat pada pengakuan status sosial yang lebih baik dalam lingkungan binaan, penerapan arsitektur modern dianggap dapat mewakili perkembangan dalam pencapaian kehidupan yang lebih baik. Sebagai akibat masyarakat cenderung mengabaikan arsitektur tradisional dalam membangun rumah tinggal. Terdapat beberapa alasan mengapa masyarakat meninggalkan arsitektur tradisional dan beralih kepada arsitektur modern. Menurut Oliver (2006) hal ini berkaitan dengan beberapa hal yang berhubungan dengan tantangan dan kesempatan dalam konservasi arsitektur tradisional antara lain:

1)          Teknologi
Konservasi rumah atau bangunan tradisional menjadi hal yang rumit terutama dalam menjaga dan memelihara material yang digunakan. Mengingat sebagian besar material bangunan dengan arsitektur tradisional menggunakan bahan-bahan dari alam sehingga dalam pemanfaatannya memerlukan teknik yang baik agar material yang digunakan dapat bertahan lebih lama baik dari kondisi alam maupun dari segi waktu. Selain itu pada saat ini semakin berkurang juga orang-orang yang menguasai teknologi arsitektur tradisional sehingga biasanya rumah tinggal dengan desain tradisional hanya dimiliki oleh kalangan tertentu, karena harus mendatangkan ahli dari tempat asal tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Selain itu perkembangnya teknologi baik untuk bahan/material dalam membangun rumah maka desain rumah tradisional yang cenderung rumit mulai ditinggalkan dan diganti dengan material yang lebih praktis, murah, mudah didapat serta tentunya lebih dianggap mengikuti dengan perkembangan zaman.

2)          Budaya
Masalah konservasi rumah/bangunan tradisional tidak melulu berhubungan dengan teknologi, tetapi juga bersinggungan dengan budaya itu sendiri. Masyarakat yang cenderung berubah, seiring dengan berjalannya waktu, budaya yang dimiliki untuk mempertahankan arsitektur tradisional pun menghilang. Selain itu seringkali masyarakat menganggap bahwa arsitektur tradisional tidak merepresentasikan sebuah kemajuan budaya. Namun ketika budaya yang menghilang ini mulai mendapat pengakuan dalam hal ini melalui kepariwisataan misalnya, beberapa mencoba melakukan konservasi bangunan/rumah tradisional tentunya dalam perspektif dan implikasi budaya yang berbeda pula.

3)          Pride and value
Konservasi sering juga menjadi simbol kebanggan dan nilai bagi masa sekarang maupun masa yang akan datang terhadap sebuah budaya. Salah satu contoh konservasi rumah tradisional yang bisa dinikmati adalah yang terdapat pada Taman Mini Indonesia Indah, meskipun dalam banyak hal telah menggunakan teknik dan bahan yang lebih modern. Borobodur merupakan salah satu kebanggaan arsitektur yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia yang bisa dinikmati melalui aktivitas keparwisataan.

Kepariwisataan, melalui berbagai macam bentuknya memegang peranan penting dalam konservasi arsitektur tradisional, karena bagaimana pun juga manifestasi dari budaya melalui arsitektur adalah untuk dinikmati secara visual. Kondisi ini hanya bisa dinikmati dengan mengkonservasi dan melestarikan tidak hanya budaya yang melatarbelakanginya tetapi juga keahlian (craftsmanship) yang dimiliki sebagai bagian dari konservasi budaya itu sendiri. Selain itu saat ini banyak bermunculan aktivitas pariwisata berbasis heritage, sebuah aktivitas wisata yang diwujudkan dalam bentuk kunjungan pada lansekap, situs bersejarah, bangunan, atau monumen tertentu (Timothy dan Boyd, 2003), yang tentunya sangat berhubungan dengan arsitektur serta budaya yang melatarbelakanginya.

Selain itu melalui aktivitas kepariwisataan, masyarakat juga mendapatkan keuntungan secara ekonomi yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan dalam melestarikan budaya [arsitektur] yang dimiliki sebagai artefak dari budaya. Mewujudkan keuntangan dari pariwisata dengan memanfaatkan arsitektur dapat dilakukan upaya konservasi budaya yang dapat dilakukan dengan beberapa upaya antara lain (Oliver, 2006) :

a.           Membongkar dan membangun kembali bangunan;
Beberapa masyarakat dalam budaya tertentu merasa inferior dan cenderung sensitif terhadap hunian tradisional mereka, sehingga cenderung terjadi penolakan terhadap pengunjung. Membangun kembali hunian mereka dengan bahan atau material yang lebih baik serta penggunaan teknologi yang lebih baik akan membantu masyarakat dalam mempertahankan nila-nilai budaya yang mereka miliki, tentunya pembangunan kembali hunian ini tidak mengesampingkan arsitektur tradisional masyarakat tersebut.

b.          Rekonstruksi;
Beberapa arsitektur sejarah karena mengalami degradasi akibat termakan usia, pengaruh iklim dan beberapa faktor lain akibat intervensi aktivitas manusia, sehingga perlu dilakukan rekonstruksi bangunan. Namun seringkali rekonstruksi ini tidak dilakukan secara akurat dan terdapat beberapa kesalahan dalam interpretasi desain arsitekturnya. Salah satu contoh mudahnya adalah rekonstruksi Candi Borobodur. Para ahli telah berhasil merekonstuksi candi pada awal ditemukan hampir sebagian besar dalam keadaan rusak kembali menjadi utuh meskipun dalam rekonstruksi beberapa bahan dan materialnya sudah menggunakan teknologi yang ada pada masa sekarang

c.           Memelihara teknologi dan metode (craftmanship);
Seiring dengan perkembangan zaman seringkali teknologi serta metode dalam membangun bangunan dengan arsitektur tradisional menghilang oleh karena tidak terpeliharanya atau hilangnya keahlian ini dari generasi tua ke generasi sekarang. Peran berbagai pihak dalam melestarikan keahlian ini terutama dalam memberikan wadah serta tempat untuk mengekspresikan budaya yang dimiliki akan sangat besar pengaruhnya terhadap kelestarian budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu.

d.          Pengakuan dan penghormatan cara hidup masyarakat terhadap budaya yang dimiliki;
Dalam beberapa kasus tertentu, pengingkaran terhadap budaya dan cara hidup masyarakat seringkali mengarahkan masyarakat kepada komersialisasi budaya, sehingga banyak sekali bangunan dibuat tidak lagi berdasarkan estetika tradisional tetapi demi tujuan ekonomis semata.

e.           The creation of an open-air museum;
Salah satu metode melestarikan arsitektur tradisional adalah dengan mengembangkan sebuah kawasan yang luas dalam bentuk museum terbuka dimana berbagai macam bentuk arsitektur tradisional dapat terpelihara dengan baik.


Source :
-          Oliver, Paul (2006) Built to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture, Elsevier, Oxford
-           Timothy, D and Boyd, S. (2003). Heritage Tourism. Essex, Pearson Education imited.